Galena

Galena banyak dijumpai di sekitar batuan metamorf dan batuan beku. Galena
tersebut membentuk suatu jalur di antara rekahan batuan beku dan metamorf.
Singkapan mineral galena ini bisa terlihat di lereng bukit atau tepian sungai di
daerah batuan metamorf. Pada beberapa tempat, mineral galena ini berdekatan dengan unsur lain seperti tembaga (Cu). Batuan galena Indonesia saat ini kebanyakan diekspor untuk memenuhi kebutuhan industri di China.

Metode eksploitasi galena umumnya menggunakan peledakan atau secara
tradisional membuat suatu jalur bawah tanah (terowongan) diantara rekahan
batuan beku.

Untuk memisahkan mineral dari batuan galena, sifat masing-masing mineral baik fisik, kimia dan mineralogi harus dikenali dengan baik. Mineral galena PbS memiliki karakteristik sebagai berikut kekerasan mosh 3,5 s/d 4, berat jenis 7,2 s/d 7,6, metal mengkilap, warna abu-abu dengan garis hitam saat digores. Sedangkan Sphalerit ZnS sebagai mineral pendamping dengan karateristik kekerasan mosh 3,5 s/d 4, berat jenis 3,9 s/d 4,2, metal mengkilap, warna kuning, coklat atau hitam, goresan warna orange kuning. Pendamping lainnya, Chalcopyrit CuFeS2 bercirikan kekerasan mosh 3,5 s/d 4, berat jenis 4,1 s/d 4,3, metal mengkilap, warna kuning tembaga, goresan hitam kehijauan. (from any source)

Read More 0 Comment

pengolahan tembaga

Tembaga diperoleh dari bijih tembaga yang disebut Chalcopirit. Besi yang ada larut dalam terak dan tembaga yang tersisa / matte dituangkan kedalam konverter. Udara dihembuskan kedalamnya selama 4 atau 5 jam, kotoran teroksidasi, dan besi membentuk terak yang dibuang pada waktu tertentu. Bila udara dihentikan, oksida kupro bereaksi dengan sulfida kupro maka akan membentuk Tembaga blister dan Dioksida belerang.Tembaga blister ini dilebur dan dicor menjadi slab, kemudian diolah secara elektrolitik menjadi tembaga murni.

Read More 0 Comment

pengolahan tembaga

Tembaga diperoleh dari bijih tembaga yang disebut Chalcopirit. Besi yang ada larut dalam terak dan tembaga yang tersisa / matte dituangkan kedalam konverter. Udara dihembuskan kedalamnya selama 4 atau 5 jam, kotoran teroksidasi, dan besi membentuk terak yang dibuang pada waktu tertentu. Bila udara dihentikan, oksida kupro bereaksi dengan sulfida kupro maka akan membentuk Tembaga blister dan Dioksida belerang.Tembaga blister ini dilebur dan dicor menjadi slab, kemudian diolah secara elektrolitik menjadi tembaga murni.

Read More 0 Comment

Proses Pengolahan Bijih Tembaga


Indonesia mempunyai cadangan bijih tembaga (Cu) yang sangat besar, sebagian besar dalam cadangan porphyry dengan kadar Cu dalam bijih beragam antara 0,1-2%. Di samping Cu, biasanya bijih berasosisasi dengan logam lain seperti emas (Au), Perak (Ag) dan logam jarang seperti Palladium (Pd), Selenium (Se) dan lain-lain. Beberapa jenis bijih Cu yang ada adalah Bornite (Cu5FeS4), Calcopyrite (CuFeS2), Covellite (CuS) dengan beberapa pengotor seperti Pyrite (FeS2), Magnetite (Fe3O4), Hematite (Fe2O3), ataupun Quartz (SiO2). Disebabkan kebanyakan mineral sulfida maka akan lebih efektif jika proses awal yang dilakukan adalah “Pengkonsentrasian” dengan menggunakan proses flotasi serta Gravity jika memang dalam bijih banyak emas (Au) dalam bentuk Native.

Process flotasi secara umum tidak begitu sulit, seperti pada tulisan sebelumnya flotasi CuS tidak jauh berbeda dengan PbS dan ZnS. Intinya adalah sama-sama mineral sulfide, yang bisa diambil dengan reagent Xanthate. Reagent lain bisa digunakan untuk mengambil bijih tembaga secara khusus, sebagai contoh Merkapto Benzo Tyazone (MBT) yang efektif untuk mengambil Bornite dan Calcopyrite. Secara umum proses flotasi untuk bijih tembaga adalah sebagai berikut:
















Gambar 1. Flotation Flowsheet Diagram

Konsentrat yang dihasilkan biasanya berkadar Cu 20-30% tergantung dari bijih dan proses flotasinya sedangkan ikutannya untuk Emas sekitar 10-30 gpt dan Perak sekitar 30-70 gpt tergantung kadar logam tersebut dalam bijih. Namun yang bisa dipastikan untuk bijih dengan kadar bijih >0,5 % maka recovery Cu bisa 85-90% sedangkan Emas dan Perak hanya mengikuti saja sekitar 75% dan 65%, semakin tinggi recovery Cu maka semakin tinggi juga recovery Au dan Ag.

Bagi perusahaan yang mempunyai proses peleburan langsung maka konsentrat yang didapatkan bisa dilebur langsung, namun bagi perusahaan yang tidak mempunyai fasilitas peleburan biasanya konsentrat dijual dengan harga Internasional dan recovery (diskon) pasar (tergantung negosiasi juga). Ada beberapa proses yang ada di dunia ini untuk teknologi peleburan secara continous, salah satunya adalah Mitsubishi Process yang ada di PT. Smelting Gresik. Teknologi lain adalah Flash Smelter dan Flash Conventer dari Outotek (Outocumpu). Apapun teknologi yang digunakan, namun yang pasti adalah proses yang diambil adalah proses oksidasi:

2CuS + 3O2 = 2CuO + 2SO2

CuO + Flux = Cu + Slag

SO2 + H2O + ½ O2 = H2SO4

Tentu saja bukan hanya itu reaksi yang terjadi, banyak mineral lain yang bereaksi namun intinya tetap sama. Jika dilihat dari reaksi yang kemungkinan tejadi, maka sesungguhnya tidak ada yang terbuang dari proses peleburan konsentrat tembaga ini. Gas yang dihasilkan bisa ditangkap untuk dijadikan asam sulfat (H2SO4) untuk dijual ke Pabrik Pupuk, Slag yang dihasilkan bisa dijadikan campuran semen dan dijual ke Pabrik Semen, Energi yang dihasilkan dari reaksi exotherm ini digunakan untuk PLTU guna memenuhi kebutuhan proses lebih lanjut. Sungguh tepat PT. Smelting didirikan di Gresik, dekat dengan PT. Petrokimia dan PT. Semen Gresik. Selain semua itu, masih juga dihasilkan Anode Slime yang mempunyai kandungan Au, Ag dan logam jarang dengan kadar yang cukup tinggi. Jadi perbedaan teknologi yang ada adalah mengenai efisiensi yang dihasilkan saja.

Berikut contoh diagram alir proses yang dimiliki oleh Outotek:




























Gambar 2. Proses Peleburan Tembaga


Copper Anode yang dihasilkan masih harus dilakukan electrorefining agar Tembaga yang dihasilkan menjadi murni. Proses electrorefining mirip dengan electrolisa hanya saja menjadikan logam campuran sebagai Anoda dan didapatkan logam murni di Katoda, sehingga setelah dilakukan electrorefining dan peleburan lanjut didapatkan Copper Cathode. Sedangkan sisa yang ada di anoda disebut dengan “Anode Slime”.

Sampai saat ini belum ada pengolahan Anode Slime di Indonesia dengan Recovery >99,2% sehingga anode slime yang dihasilkan oleh PT. Smelting pun saat ini masih dimurnikan (dijual) ke luar negeri. Ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk mengambil Au, Ag dan logam jarang yaitu jalur hidrometalurgi dan jalur paduan piro-hidrometalurgi. Mudah-mudahan ke depan Indonesia mempunyai dan bisa mengolah dari bijih hingga dihasilkan logam murni baik Cu, Au, Ag, Pd, Se dll. Masalah yang ada bukanlah masalah teknologi karena banyak orang Indonesia yang pandai dan sudah berpengalaman. Masalah terbesar adalah kekuatan pendanaan serta kekuatan kemauan dan politik.

Read More 0 Comment

PROSES PENGOLAHAN EMAS DENGAN SISTEM PERENDAMAN


BAHAN
Ore/ bijih emas yang sudah dihaluskan dengan mesh + 200 = 30 ton

FORMULA KIMIA
1. NaCn = 40 kg
2. H2O2 = 5 liter
3. Kostik Soda/ Soda Api = 5 kg
4. Ag NO3 =100 gram
5. Epox Cl = 1 liter
6. Lead Acetate = 0.25 liter (cair)/ 1 ons (serbuk)
7. Zinc dass/ zinc koil = 15 kg
8. H2O (air) = 20.000 liter

PROSES PERENDAMAN
• Perlakuan di Bak I (Bak Kimia)
1. NaCn dilarutkan dalam H2O (air) ukur pada PH 7
2. Tambahkan costik soda (+ 3 kg) untuk mendapatkan PH 11-12
3. Tambahkan H2O2, Ag NO3, Epox Cl diaduk hingga larut, dijaga pada PH 11-12
• Perlakuan di Bak II (Bak Lumpur)
1. Ore/ bijih emas yang sudah dihaluskan dengan mesh + 200 = 30 ton dimasukkan ke dalam bak
2. Larutan kimia dari Bak I disedot dengan pompa dan ditumpahkan/ dimasukkan ke Bak II untuk merendam lumpur ore selama 48 jam
3. Setelah itu, air/ larutan diturunkan seluruhnya ke Bak I dan diamkan selama 24 jam, dijaga pada PH 11-12. Apabila PH kurang untuk menaikkannya ditambah costic soda secukupnya
4. Dipompa lagi ke Bak II, diamkan selama 2 jam lalu disirkulasi ke Bak I dengan melalui Bak Penyadapan/ Penangkapan yang diisi dengan Zinc dass/ zinc koil untuk mengikat/ menangkap logam Au dan Ag (emas dan perak) dari larutan air kaya
5. Lakukan sirkulasi larutan/ air kaya sampai Zinc dass/ zinc koil hancur seperti pasir selama 5 – 10 hari
6. Zinc dass/ zinc koil yang sudah hancur kemudian diangkat dan dimasukkan ke dalam wadah untuk diperas dengan kain famatex
7. Untuk membersihkan hasil filtrasi dari zinc dass atau kotoran lain gunakan 200 ml H2SO4 dan 3 liter air panas
8. Setelah itu bakar filtrasi untuk mendapatkan bullion.

Read More 0 Comment

proposal


1. LATAR BELAKANG PROYEK

PT. Sekawan Utama International (SUI), merupakan perusahaan swasta nasional yang bergerak dalam bidang yang berbasiskan riset dan pengembangan teknologi. Beberapa bidang yang dilakukan saat ini adalah pengembangan alat-alat kesehatan, alternatif energi baru (gasifikasi), dan jasa tambang (mining services).

Proposal kerjasama ini ditawarkan sebagai langkah untuk menciptakan value added hasil penambangan batuan Galena atau mineral lainnya yang selama ini dilakukan. Juga untuk memenuhi Undang-undang Pertambangan yang baru dimana penjualan dalam bentuk batuan mentah tidak dapat dilakukan lagi.

SUI telah mampu mengembangkan instalasi pemrosesan batuan galena (PbS) menjadi konsentrat Pb dengan kadar tinggi. Dan instalasi ini dikembangkan dengan berbasis pada lingkungan, sehingga ditargetkan tidak akan mengganggu lingkungan di sekitarnya.



2. SEKILAS TENTANG BISNIS LOGAM TIMAH HITAM (LEAD – Pb)

Batuan galena merupakan bahan baku dari logam timah hitam (Pb). Melalui sebuah proses, batuan yang masih banyak mengandung unsur-unsur pengotor kemudian dimurnikan dan diambil logam timah hitamnya.

Dalam bisnis perdagangan logam, Timah Hitam (Pb) merupakan salah satu jenis logam yang banyak dibutuhkan. Industri yang amat memerlukan logam ini adalah industri baterai. Hampir 75% penggunaan timah hitam digunakan untuk industri ini (Gambar 1). Industri lain yang menggunakan logam ini adalah pada produk-produk plumbing dan minyak.

Di Indonesia, kebutuhan Pb masih belum dapat dipenuhi oleh ketersediaannya sehingga logam ini sangat dicari. Terlebih lagi, dengan adanya regulasi yang baru menyebabkan para eksportir tidak dapat lagi mengirim langsung dalam bentuk batuan/mineral ke luar negeri, tetapi harus diolah dulu setidaknya menjadi bullion (batangan).

Di siniilah SUI ingin masuk ke dalamnya, baik secarmandiri maupun bermitra dengan perusahaan lain dalam hal pengembangan instalasi dan pengoperasian pemrosesan galena.




Gambar 1. Konsumsi Pb pada industri pengguna pertama



3. PEMROSESAN GALENA MENJADI TEPUNG (KONSENTRAT) PbS

3.1. Batuan Galena

Biji timah paling banyak muncul sebagai galena (lead sulfide), selain itu juga muncul sebagai cerrusite (lead carbonate) dan anglesite (lead sulphade). Batuan galena muncul sebagai akibat proses hydrothermal seperti di daerah sukabumi. Galena biasanya ditemukan dekat permukaan tanah dan muncul bersama seng ZnS (zinc sulfide, Sphalerit) dan tembaga CuFeS2 (Chalcopyrit). Dengan menggunakan metoda ekstraksi kovensional, keduanya dapat dengan mudah dipisahkan. Metoda pemisahan yang paling sering dipakai adalah flotation dan mekanis (meja pemisah).





Gambar 2. Galena


Untuk memisahkan mineral dari batuan galena, sifat masing-masing mineral baik fisik, kimia dan mineralogi harus dikenali dengan baik. Mineral galena PbS memiliki karakteristik sebagai berikut kekerasan mosh 3,5 s/d 4, berat jenis 7,2 s/d 7,6, metal mengkilap, warna abu-abu dengan garis hitam saat digores. Sedangkan Sphalerit ZnS sebagai mineral pendamping dengan karateristik kekerasan mosh 3,5 s/d 4, berat jenis 3,9 s/d 4,2, metal mengkilap, warna kuning, coklat atau hitam, goresan warna orange kuning. Pendamping lainnya, Chalcopyrit CuFeS2 bercirikan kekerasan mosh 3,5 s/d 4, berat jenis 4,1 s/d 4,3, metal mengkilap, warna kuning tembaga, goresan hitam kehijauan.


3.2. Penghancuran Dan Pembubukan Batu Galena

Pada metoda Flotation mula-mula biji timah di hancurkan (crushing) sampai ukuran 1 cm dan kemudian dihaluskan (grinding) dengan bantuan ball mill (Gambar 3 dan 4) atau rod mill. Optimal apabila penghalusan mencapai ukuran butiran kurang dari 0,25 mm. Karena kekerasan mosh ketiga mineral sama, maka waktu yang dibutuhkan penghalusan sama. Waktu yang dibutuhkan untuk menghancurkan galena ukuran 1 cm menjadi 0,25 mm antara 3 sampai 4 jam.



Gambar 3. Ball Mill Sebagai Penghancur galena




Gambar 4. Ball mill tradisional menggunakan Belt (masing-masing dengan kapasitas 50 kg/4jam)


3.3 Pengapungan Selektif (Selective Flotation)

Menggunakan metoda flotation biji timah diubah menjadi suspensi dengan cara penghalusan di dalam air. Kepekatan suspensi bervariasi antara 5% sampai 40% berat padatan. Kemudian suspensi diaduk diaerasi dengan gelembung udara dan ditambah dengan beberapa bahan kimia agar material yang lain terikat gelembung udara dan di bawa ke permukaan. Urutan proses untuk memisahkan galena, seng dan perak dari batuan galena diperlihatkan oleh gambar 5.

Mula-mula suspensi dikondisikan di tangki precondition untuk pengapungan PbS. Seluruh mineral pendamping ditekan dengan masing-masing depressant, kemudian PbS diaktifkan menggunakan activator untuk bereaksi dengan collector. Setelah PbS tertutup lapisan tipis collector, suspense dipindahkan ke tabung reaksi, diatur Ph-nya dengan Ph-regulator dan ditambah frothers. Campuran diaduk dan diaerasi sehingga terbentuk gelembung-gelembung udara. Terjadi ikatan antara permukaan gelembung udara dengan partikel PbS, sehingga PbS akan terangkat ke permukaan dan diluapkan. PbS akan mengapung bersama CuFeS2 dan CuS yang selanjutnya dipisahkan menggunakan Flocculants. Sedangkan partikel yang mengendap akan dipindahkan ke tabung reaksi lainya (serial) untuk pengapungan ZnS dst. Proses pengapungan ZnS, FeS Pyrit, AuS Gold atau mineral yang lainya sama dengan pengapungan PbS dengan bahan kimia yang berbeda.




Gambar 5. Proses Flotation PbS, ZnS dan CuFeS2


Karena cukup ketatnya ambang keluaran, yakni PbS dengan kandungan 85% maka proses pengapungan bisa diulang sampai dengan 2-3 kali. Setiap putaran proses membutuhkan waktu selama kurang lebih 4 menit. Dengan kapasitas dari mesin flotation yang disiapkan sekitar 100 kg/4 menit atau 1,5 ton/jam, berarti dengan masukan batuan dalam sehari 5 ton dibutuhkan kurang lebih 3,5 s/d 5 jam. Waktu pengeringan keseluruhan produk sekitar 5 jam.

Secara konstruksi mesin flotation dapat dilihat pada Gambar 6, beberapa bejana larutan kimia dilengkapi dengan pompa ukuran (dosing pump) dan sebuah bejana reaksi yang dilengkapi dengan pengaduk dan aerator. Sistem pengolahan ini berjalan secara kontinyu, ini dapat diartikan perhitungan material masukan, waktu proses dan material keluaran harus tepat.



Gambar 6. Tangki Bahan Kimia Dengan Dosing Pump



Gambar 7. Tangki Reaksi




Gambar 8. Pengaduk Dengan Aerasi


3.4. Proses Ramah Lingkungan (Green Process)

Sebaiknya proses dibuat ramah lingkungan (green process), untuk itu perlu penambahan biaya investasi berupa instalasi pengolahan limbah cair B3 (IPAL B3) dan penangkap polutan udara (scrubber). IPAL B3 yang direkomendasikan (Gambar 9) adalah membrane polymer chemical resistant yang dilengkapi dengan Advanced Oxidation Process.




Gambar 9. IPAL B3 membrane polymer chemical resistant Dan Advanced Oxidation process


4. POLA KERJASAMA DENGAN MITRA TAMBANG

Bagi SUI, Mitra Tambang merupakan valuable partner. Oleh karenanya, prinsip kerjasama dalam pengolahan galena ini adalah prinsip keterbukaan dan saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. Beberapa point yang menjadi dasar kerjasama:

· SUI akan menjadi penyedia dan pengoperasi instalasi pengolahan galena, sedangkan MItra Tambang menyediakan bahan baku, lahan/lokasi untuk instalasi pengolahan serta mempersiapkan administrasi perijinannya.

· SUI menjamin dan menjaga kualitas produk yang dihasilkan hingga kadar 85-90% PbS, juga kelangsungan pemrosesan. Mitra Tambang menjamin pasokan bahan baku sesuai spesifikasi.

· Produk mineral konsentrat meliputi konsentrat PbS sebagai tujuan utama, tetapi juga ZnS dan CuS sesuai dengan kesepakatan.

· Profit sharing hasil penjualan konsentrat mineral berkisar 30% untuk SUI dan 70% untuk MItra Tambang sesuai kesepakatan.

· Sifat kontrak kerjasama juga bukan BOT (Build Operate Transfer), jadi instalasi pengolahan tetap milik SUI. Tetapi SUI meminta downpayment sebesar 30% dari nilai investasi yang SUI keluarkan sebagai bukti pelaksanaan kerjasama.

· Kontrak kerjasama pada tahap pertama akan berlangsung selama 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang.

· Hal-hal yang lebih rinci akan dituangkan kemudian dalam perjanjian kerjasama.





4. GAMBARAN UMUM KEBUTUHAN BIAYA

Sebagai gambaran umum besarnya investasi instalasi pengolahan mineral galena, berikut beberapa biaya penting untuk dijadikan pertimbangan bagi Mitra Tambang.


4.1. Biaya Investasi

Kebutuhan biaya investasi pembangunan instalasi pengolahan galenanya diperkirakan:

· Instalasi Pengolahan (Preparation System, Floatation System, dan Water Waste System)

· Bangunan rumah mesin

· Biaya kontigensi

4.2. Biaya Rutin Operasional Bulanan

Biaya-biaya rutin untuk operasional yang dikeluarkan

· Biaya reagent kimia

· Biaya tenaga kerja/administrasi/kantor

· Biaya transportasi, pemeliharaan dan lainnya

4.3. Catatan Tentang Perkiraan Biaya

Biaya-biaya ini merupakan biaya franco Jakarta & Bodetabek.

Detil biaya dan perkiraan rugi-laba dan cash flow akan dibicarakan secara terbuka, setelah ada kesepakatan kerjasama. Karena pada prinsipnya, ini merupakan proyek bersama antara SUI dan Mitra Tambang.

Read More 0 Comment

pengolahan galena


Tulisan ini di copas dari blognya ram3gb, bisa disearch koq pake google.

***

CARA OLAH GALENA (Ilmu Gratiss..)
By ram3gb

Rec.adv.bulan: January 2008

Setelah pembahasan mengenai perhitungan bisnis Galena, marilah kita bahas cara pengolahan Batu Galena menjadi Pb atau Timah Hitam.

Ada beberapa cara dalam pengolahan batu galena yang akan dijabarkan kelebihan dan kekurangannya.

Jenis Tungku
Kelebihan
Kekurangan

Konvensional
-Teknologi murah.

-Industri rumah tangga

-Limbah&polusi rendah

-bisa dilakukan sendiri
-Produksi Rendah

-Scala bisnis kecil

-overhead sedang

Dapur Tinggi
-Produksi Sedang

-skala industri manufaktur
-Teknologi sedang

-Overhead Tinggi

-limbah&polusi sedang

Flotasi Separator & Burner
-Overhead rendah

-Produksi Tinggi

-skala industri manufaktur.
-Teknologi Tinggi

-limbah&polusi Tinggi

Diperusahaan ini memiliki ke-3 tungku ini, Untuk proses produksi sendiri menggunakan Separator&Burner untuk mengejar Target 10 Ton Pb per hari. Tungku Konvensional digunakan untuk melakukan Analisa Research and Development. Dapur Tinggi merupakan tungku yang digunakan untuk proses produksi sebelum datangnya teknologi Separator, baru – baru ini dapur tinggi digunakan untuk memproses Fe.

Disini saya akan memaparkan Cara OLAH GALENA dengan TEKNOLOGI MURAH !!!.

1. Tungku Konvensional (Teknologi Rendah dan Murah)

Cara Pembuatan Tungku :

Siapkan Drum oli/minyak, dibelah sehingga tinggi Drum 60Cm.

Gali tanah dengan kedalaman 65cm, dengan diameter menyesuaikan dengan Drum.

Letakkan Drum didalam lubang galian, lalu dikubur/ditutup sehingga diameter lubang tanah 40 cm dengan tinggi 50 cm.

Lubang di Cor dengan menggunakan Bata merah, semen pasir, dan pasir halus, sehingga diameter menjadi 30 cm tinggi 45 – 40 cm. (Kalau punya Dana Lebih, bisa menggunakan Bata api, crusibel).

Sistem Pengeringan +/- 6 hari untuk sempurna. Selesai.

Peralatan yang diperlukan :

Sekop cap Mata / Jipang.

Sekop Pengaduk ( panjang 1.5 Meter )

Blower 5’ inch.

Hong / Pipa Besi (kalo bisa nikel crome)

Instalasi pemasangan Hong.

Gayung Stainless.

Cetakan Pb.

Bahan – Bahan :

Pasir Galena 100kg.

NAOH 25kg.

Areng 60kg.

Waterglass 2kg.

CaCo3 / CaO 4 – 5kg.

Cara Pengolahan :

Campurkan semua bahan (kec.Areng).

Masukan Areng kedalam tungku dan bakar dengan sedikit minyak/solar.

Nyalakan blower hingga areng menyala merah, lalu tambahkan Areng lagi hingga tungku penuh dengan Areng dan Hong tertutup areng.

Awurkan bahan sedikit demi sedikit diatas tungku, yang secara perlahan akan meleleh.

Tambahkan areng jika api tidak lagi besar dengan proses pembalikan.

Lakukan selama 2 Jam, setelah itu bersihkan tungku dari slax/kotoran (seperti Gulali).

Lakukan dengan Sekop, terus saja bersihkan sampai akan terlihat cairan perak (Pb cair) di bagian bawahnya. Untuk membantu pembersihan cairan Pb dari Slax bisa menggunakan serbuk areng.

Setelah bersih dari slax, ciduk cairan Pb dengan menggunakan gayung steinless, tuangkan diatas cetakan. Selesai.

Pada Episode berikut saya akan menceritakan pengalaman saya MENGOLAH EMAS dari Galena !!!.
saya harap informasi ini bisa kalian sebarkan, biar rating blog saya naek (hehehehe…..)

Silahkan anda langsung Praktek ya…, di halaman belakang rumah juga bisa.. :>
klo ada pertanyaan tinggal Posting aja disini.

***

Read More 1 Comment

Copyright © escondel.